Senin, 05 Desember 2016

pencegahan anemia, cacingan, dan kkp



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Anemia, cacingan, dan KKP adalah penyakit yang sering di derita oleh masyarakat. Penyebabnya sangat beragam. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya yaitu kurangnya kesadaran untuk melakukan pola hidup sehat.
Cacingan yang dianggap sepele dapat mengakibatkan infeksi ringan yang sangat mengganggu terutama pada anak-anak yang dalam masa pertumbuhan. Infeksi ringan dapat mnegakibatkan anemia dengan berbagai manifestasi klinis, baik yang terlihat secara nyata maupun yang tidak terlihat. Sedangkan dalam kasus infeksi yang sedang sampai dengan berat dapat mengganggu proses penyerapan makanan sehingga zat-zat gizi tidak dapat diserap dengan baik oleh tubuh.
Upaya-upaya untuk menangani penyakit tersebut merupakan tindakan-tindakan preventif. Perbaikan harus ditujukan pada faktor-faktor penyebab lapis terdalam maupun terluar. Seperti perbaikan ekonomi Negara, peningkatan pendidikan umum dan pendidikan gizi, penerangan serta penyuluhan gizi, peningkatan produksi bahan makanan. Selain itu juga adanya perbaikan kondisi keluarga dan para anggota keluarga.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan anemia?
2.      Apa penyebab umum anemia?
3.      Apa saja faktor terkena anemia?
4.      Bagaimana pencegahan anemia?
5.      Apa yang dimaksud dengan cacingan?
6.      Bagaiman cara pencegahan penyakit cacingan?
7.      Apa yang dimaksud dengan KKP?
8.      Apa saja penyebab KKP?
9.      Bagaimana cara penanggulangan KKP?
1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian anemia.
2.      Untuk mengetahui penyebab umum anemia.
3.      Untuk mngetahui faktor-faktor apabila terkena anemia.
4.      Untuk mengetahui pencegahan anemia.
5.      Untuk mengetahui pengertian cacingan.
6.      Untuk mengetahui cara pengobatan cacingan.
7.      Untuk mengetahui pengertian KKP.
8.      Untuk mengetahui penyebab KKP.
9.      Untuk mengetahui penanggulangan KKP.

1.4  Manfaat
Agar mahasiswa dapat memahami penyakit cacingan, anemia, dan KKP. Faktor-faktor penyebabnya, dan cara penanggulangannya.












BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian
1.      ANEMIA
Anemia atau kurang darah adalah kondisi dimana hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal.Hemoglobin berperan untuk mengangkut oksigen dari paru-paru dan menyalurkannya ke seluruh tubuh. Orang yang terkena anemia akan mengalami kekurangan oksigen untuk menghasilkan energi, maka penderita anemia terlihat pucat, capat lelah, sesak nafas, bahkan gelisah. Selain itu, penderita anemia akan terlihat pucat di bagian lidah dan kelopak mata.


a.    Penyebab umum anemia:
1)         Kekurangan vitamin B12
2)         Kekurangan asam folat
3)         Gangguan sumsum tulang
4)         Pendarahan
5)         Kekurangan zat besi
6)         Mengalami pendarahan usus
7)         Faktor genetik


Anemia terjadi karena tubuh kekurangan sel darah merah, kehilangan banyak sel darah merah, atau mematikan sel darah merah lebih banyak daripada menggantikannya.
Berikut ini beberapa jenis anemia dan penyebabnya:
1.       Iron deficiency anemia
Penyebab: kekurangan zat besi dalam tubuh. Sumsum tulang membutuhkan zat besi untuk membuat hemoglobin.Jadi, tanpa zat besi yang cukup, tubuh tidak memproduksi hemoglobin yang cukup untuk sel darah merah
2.      Vitamin deficiency anemia
Sebagai tambahan dari zat besi, tubuh juga membutuhkan folat dan vitamin B12 untuk menghasilkan sel darah merah yang cukup.Oleh karena asupan makanan seseorang yang kurang kandungan zat tersebut dapat mengakibatkan penurunan produksi sel darah merah.Namun ada juga orang yang tidak bisa menyerap vitamin B12 dengan efektif.
3.      Anemia of chronic disease
4.      Aplastic anemia
5.      Anemias assosiated with bone marrow disease
6.      Hemolytic anemias
7.      Sickle cell anemia
8.      Anemia lain
b.    Berikut ini adalah gejala anemia yang dilansir Boldsky:


1.      Kelopak mata pucat
2.      Cepat lelah
3.      Sering mual
4.      Sakit kepala
5.      Ujung jari pucat
6.      Sesak napas
7.      Denyut jantung tidak teratur
8.      Wajah pucat
9.      Rambut rontok
10.  Kekebalan tubuh menurun





c.  Faktor terkena anemia:
1.      Rendahnya asupan gizi pada makanan.
2.      Gangguan kesehatan usus kecil atau operasi yang berkenaan dengan usus kecil.
3.      Menstruasi.
4.      Kehamilan.
5.      Kondisi kronis seperti kanker, gagal ginjal, atau kegagalan hati.
6.      Faktor genetik/keturunan.
7.      Infeksi tertentu seperti gangguan darah dan autoimun, terkena racun kimia, dan menggunakan beberapa obat yang berpengaruh pada produksi sel darah merah.
8.      Diabetes, alkohol, dan orang yang menjadi vegetarian ketat dan kurang asupan zat besi atau vitamin B12 pada makanannya.

d.      Pencegahan Anemia
Banyak jenis anemia yang tidak dapat dicegah, namun untuk menghindari iron dificeincy anemia dan vitamin difesiency anemia dapat dicegah dengan makan makanan yang mengandung:
1.      Zat besi
Memastikan konsumsi zat besi secara teratur untuk memenuhi kebutuhan tubuh dan untuk meningkatkan kandungan serta bioavailabilitas (ketersediaan hayati) zat besi dalam makanan. Ada empat pendekatan utama :
a.       Penyediaan suplemen zat besi
Prinsip esensial dalam manajemen anemia karena defisiensi zat besi adalah terapi sulih zat besi dan penanganan penyebab yang mendasar seperti infeksi parasit atau perdarahan gastrointestinal. Terapi zat besi per oral merupakan bentuk penanganan yang disukai.
Ferro sulfat merupakan preparat zat besi oral yang paling murah dan banyak digunakan. Dosis total yang ekuivalen dengan 60 mg zat besi elemental (300 mg ferro sulfat) Per hari sudah cukup bagi orang dewasa dan harus diberikan di antara saat saat makan pada pagi hari atau pada waktu tidur. Pada bayi dan anak kecil, pemberian 30 mg besi elemental per hari sudah memadai. Umumnya setelah waktu lebih dari 4 minggu akan terjadi kenaikan kadar hemoglobin sekitar 2g/dl. Penting untuk diingat bahwa terapi zat besi harus lanjutkan selama sekitar 3 bulan sekalipun kadar hemoglobin sudah kembali normal. Pada kasus anemia karena defisiensi zat besi yang berat dengan kadar hemoglobin berkisar 5-7g/dl dianjurkan untuk transfusi dengan preparat packed-cell. Efek samping yang lazim terjadi pada suplementasi zat besi adalah mual, konstipasi, tinja berwarna hitam, dan diare. Risiko efek samping tersebut sebanding dengan dosis zat besi yang diberikan. Ketidakpatuhan pasien dalam menjalani terapi merupakan penyebab utama ketidakberhasilan dalam merespons terapi dan diperlukan konseling individual yang dilaksanakan dengan tepat serta simultan.
Pemberian zat besi secara oral merupakan terapi pilihan untuk pencegahan anemia karena defisiensi zat besi. Pada umumnya, pemberian suplemen setiap hari yang berisi sekitar 100 mg besi elemental direkomendasikan selama periode waktu sekitar 100 hari bagi kelompok populasi yang paling rentan, seperti ibu hamil. Dosis pemberian ditetapkan dengan mempertimbangkan efektivitas biologis dan efek samping. Efek samping yang lazim dijumpai pada terapi zat besi per oral adalah gangguan gastrointestinal seperti konstipasi dan tinja yang berwarna hitam. Penggunaan terapi dalam waktu yang lama dapat menimbulkan nyeri pada sendi. Keberhasilan program semacam ini bergantung pada distribusi suplemen zat besi dengan jumlah yang adekuat dan kepatuhan individual menghadap pengobatan. Sedapat mungkin kelahiran bayi dilaksanakan melalui sitem persalinan yang sudah ada. Pengalaman di India merupakan contoh kekurangan pada program tersebut ketika diujicobakan dalam skala besar. Pada tahun 1970, India mengadopsi program nasional suplementasi dengan pemberian tablet zat besi dan asam folat tiap hari ( selama 100 hari ) kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak yang kecil. Hasil evaluasi program ini menunjukkan tidak adanya perubahan pada prevalensi anemia karena defisiensi zat besi di negara tersebut sebagai akibat dari pasokan suplemen yang tidak mencukupi dan tidak teratur. Demikian pula, hal yang sama terjadi di Indonesia. Meskipun telah dilakukan distribusi 120 mg zat besi per hari selama 3 bulan bagi semua ibu yang hamil sudah dilaksanakan selama periode 10 tahun, namun pravalensi anemia defisiensi besi tetap tinggi.
Sayangnya, dengan kondisi sosioekonomi yang terjadi sekarang ini dengan asupan zat besi dari makanan tidak lagi memadai, para ibu hamil di negeri berkembang tetap memerlukan suplementasi untuk memenuhi kebutuhan mereka akan zat besi. Karena alasan inilah kita dituntut untuk dapat menemukan program alternatif suplementasi seperti pemberian besi lepas-lambat. Pemakaian preparat zat besi lepas lambat dapat memberikan manfaat yang sama seperti halnya pemakaian zat besi dalam dosis rendah dengan efek samping yang sangat sedikit. Suplementasi zat besi mingguan sebagai pengganti pemberian zat besi harian juga sudah diusulkan; cara ini dapat menghasilkan penyerapan zat besi yang lebih besar kendati mungkin hanya efektif jika dilaksanakan dalam kondisi diawasi.

b.      Fortifikasi bahan pangan yang biasa dikonsumsi dengan zat besi
Fortifikasi zat besi pada beberapa bahan pangan yang lazim dikonsumsi merupakan pilihan menarik untuk mengatasi permasalahan asupan zat besi yang tidak memadai dalam masyarakat. Bahan pangan yang dijadikan fortifikan dan pembawa harus aman dan efektif. Jenis-jenis bahan pangan yang berhasil dijadikan pembawa bagi fortifikasi pangan adalah gandum, roti, tepung susu, garam, susu formula bayi, dan gula. Negara Swedia memiliki sejarah panjang fortifikasi zat besi pada tepung gandum dengan takaran 65 mg zat besi/kg tepung. Di AS, tepung gandum juga difortifikasi dengan zat besi (44mg/kg). Di India, hasil uji coba di lapangan yang melibatkan banyak pihak menunjukkan bahwa garam biasa yang difortifikasi dengan zat besi ternyata efektif untuk menurunkan prevalensi anemia karena defisiensi zat besi pada masyarakat pedesaan.
c.       Edukasi gizi
Upaya yang ekstensif dan persuasif diperlukan untuk menimbulkan perubahan perilaku dalam masyarakat agar orang-orang dalam masyarakat tersebut mau mengadopsi diversifikasi pangan. Pada akhirnya, satu-satunya solusi yang bertahan lama dalam pemecahan persoalan anemia karena defisiensi zat besi adalah dengan membantu masyarakat mengonsumsi makanan yang kaya dengan zat besi secara teratur, mendorong asupan promotor absorpsi besi seperti vitamin C, dan mencegah konsumsi faktor-faktor penghambat yang berlebihan. Pendekatan berikut ini dianggap paling penting dalam pencegahan dan pengendalian anemia gizi secara umum:
1.        meningkatkan konsumsi bahan pangan yang kaya akan zat besi seperti kacang-kacangan, sayuran hijau, jenis sayuran lainnya dan daging.
2.        Mendorong konsumsi secara teratur bahan pangan yang kaya akan vitamin C seperti jeruk sitrus, jambu, dan kiwi.
3.        Meningkat penambahan bahan pangan yang kaya akan zat besi pada makanan tambahan bagi bayi
4.        Menyarankan untuk tidak mengonsumsi bahan pangan yang dapat menghambat absorpsi besi, khususnya bagi wanita dan anak-anak.
d.      Pendekatan berbasis hortikultur untuk memperbaiki ketersediaan hayati zat besi pada bahan pangan yang umum
                           Strategi hortikultural untuk mendorong produksi buah dan sayuran yang kaya akan zat besi merupakan komponen penting dalam pendekatan jangka panjang untuk mengendalikan dan mencegah anemia karena defisiensi zat besi di negara berkembang. Ironisnya, pada negara yang sudah tersedia berbagai ragam bahan pangan yang kaya akan zat besi dan promotor absorpsi besi, tetapi anemia karena defisiensi zat besi tetap menjadi persoalan yang prevalen. Di tingkat pemerintahan, terdapat tuntutan untuk menambahkan komponen gizi ke dalam semua program hortikultural dan sosial kehutanan, sementara di tingkat rumah tangga harus dilakukan berbagai upaya untuk mendorong produksi sayuran. Kebun rumah merupakan salah satu pendekatan yang dapat berlanjut untuk mengendalikan anemia karena defisiensi zat besi pada masyarakat pedesaan yang miskin. Di sisi lain, ketika masyarakat yang sudah terlibat dalam kegiatan pertanian memerlukan edukasi dan peluasan pengetahuan untuk meningkatkan produksi bahan pangan bergizi pada kebun-kebun di rumah mereka. Keuntungan berkebun di rumah adalah bahwa kegiatan ini akan memfasilitasi konsumsi nutrien yang beragam. Pada kasus anemia karena defisiensi zat besi, kegiatan berkebun di rumah akan memfasilitasi diikutsertakannya produk promoter absorpsi besi ke dalam makanan penduduk di samping menyediakan pula jenis-jenis bahan pangan yang kaya akan zat besi.

2.      Folat
Anda dapat menurunkan risiko terkena anemia defisiensi folat dengan diet seimbang yang mengandung cukup folat. Direkomendasikan, jumlah folat untuk dikonsumsi setiap hari adalah 200 mikrogram (ug). Umumnya, jika seseorang sudah cukup mengonsumsi sayuran, buah-buahan dan kacang-kacangan, tidak perlu lagi untuk mengonsumsi suplemen.
Folat dapat rusak oleh panas, sehingga buah dan sayuran yang dalam keadaan mentah mengandung lebih tinggi folat ketimbang yang telah dimasak. Roti dan sereal yang telah diperkaya dengan vitamin juga merupakan sumber folat yang baik. Sumber folat yang bagus di antaranya beras cokelat, kol brussel, brokoli, asparagus, kacang polong, kacang arab.
Namun jika Anda memiliki gangguan dalam penyerapan nutrisi tubuh, atau jika sedang hamil, maka mungkin perlu untuk mengonsumsi suplemen. Mintalah saran dokter untuk hal ini.
3.      Vitamin B12
Vitamin B12 adalah suatu vitamin yang sangat kompleks molekulnya, yang mengandung sebuah atom kobal yang terikat mirip dengan besi terikat dalam hemoglobin atau magnesium dalam klorofil. Sumber yang mengandung vitamin B12 yaitu bisa ditemukan pada daging, ikan, telur, dan susu. Orang yang hanya makan sayuran (vegetarian) dapat melindungi diri sendiri melawan defisiensi (kekurangan) dengan menambah konsumsi susu, keju dan telur. Hal ini berarti sekitar satu cangkir susu atau satu butir telur untuk satu harinya.
Untuk seorang vegetarian yang tidak memakan semua produk dari hewan dapat memperoleh sumber vitamin B12 dari susu kedelai atau ragi yang sudah ditumbuhkan dalam lingkungan yang kaya akan vitamin B12. Sumber lainnya adalah miso (produk fermentasi kedelai, semacam tauco) dan tempe (terutama yang dibuat secara tradisional). Pada tempe buatan pabrik tidak ditemukan kobalamin. Bagi kaum vegetarian yang akan meningkatkan jumlah vitamin B12, dapat makan sereal ataupun susu kedelai yang diperkaya dengan vitamin dan mineral.
Vitamin ini bersifat larut dalam air, dan dapat disintetis oleh bakteri dalam usus. Vitamin B12 ini berbeda dengan vitamin larut air lainnya tidak cepat dikeluarkan dalam urin, tetapi dikumpulkan dan disimpan dalam hati, ginjal dan beberapa jaringan tubuh.
Kekurangan vitamin B12 tidak saja terjadi karena asupannya yang kurang. Asupan vitamin lain berlebihan pun dapat mengakibatkan defisiensi vitamin B12. Misalnya, karena berlebihan mengkonsumsi vitamin C.
Perlu diketahui bahwa kebutuhan vitamin B12 berbeda-beda tergantung dari usianya. Usia 0 sampai 3 tahun membutuhkan 400-900 nanogram vitamin B12 setiap hari. Usia 4 sampai 13 tahun membutuhkan 1,2-2,4 mcg vitamin B12 setiap hari. Usia 14 tahun keatas membutuhkan 2,4-2,8 mcg vitamin B12 setiap hari. Cegah tentu dengan mengkonsumsi makanan bervitamin B12, banyak daging terutama lebih baik. Daging hewani yang banyak protein seperti daging ikan bisa Anda konsumsi jika Anda terhalang dengan daging sapi atau kambing yang berkolesterol tinggi dan menghindari tekanan darah tinggi. Jika Anda tidak juga dapat juga memenuhi kebutuhan vitamin B12 pada daging-dagingan, Anda bisa mengkonsumsi sayuran fermentasi seperti tahu, miso atau tempe.
Selain itu, makan makanan olahan rumput laut, ganggang yang berupa agar-agar atau jelly juga dapat membantu Anda memenuhi kebutuhan vitamin B12. Hindari menjadi vegetarian. Kekurangan asupan vitamin B12 karena terlalu banyak makan sayuran tanpa diikuti oleh kebutuhan vitamin B12 dari sumber hewani sama saja Anda mengundang penyakit akibat kekurangan vitamin B12. Cegah juga kekurangan vitamin B12 dengan mengkonsumsi suplemen multivitamin. Atau konsultasikan ke dokter untuk dapat suplemen vitamin yang tepat.
Sumber alami vitamin B12 terdapat pada sumber hewani dan sayuran. Akan dijelaskan kandungan vitaminnya pada setiap sumber alami vitamin B12 ini. Sarden takaran 3,2 ons mengandung vitamin B12 8,11 mcg. Salmon takaran 4 ons mengandung 6,58 vitamin B12. Daging rusa takaran 4 ons mengandung vitamin B12 sebanyak 3,47 mcg. Udang takaran 4 ons mengandung vitamin B12 sebanyak 1,69 mcg. Kerang takaran 4 ons mengandung vitamin B12 sebanyak 1,47 mcg. Daging domba takaran 4 ons mengandung vitamin B12 sebanyak 2,45 mcg. Susu takaran satu cangkir mengandung vitamin B12 sebanyak 1,29 mcg. Ikan cod takaran 4 ons mengandung vitamin B12 1,18. Ikan halibut takaran 4 ons mengandung vitamin B12 sebanyak 1,55 mcg. Yogurt takaran satu cangkir mengandung vitamin B12 sebanyak 1,37 mcg. Daging sapi takaran 4 ons mengandung vitamin B12 sebanyak 1,8 mcg. Telur takaran setiap 1 butirnya mengandung vitamin B12 sebanyak 0,55 mcg.

4.      Vitamin C
Sayuran daun hijau merupakan salah satu bahan pangan yang baik sebagai sumber vitamin dan mineral, terutama vitamin C, provitamin A, zat besi dan kalsium. Semua zat gizi tersebut mempunyai fungsi penting sebagai pengatur reaksi metabolisme untuk pemeliharaan dan pertumbuhan jaringan tubuh, dan vitamin C mempunyai peranan yang cukup besar dalam membantu penyerapan zat besi dari makanan yang dikonsumsi.
Vitamin C adalah suatu zat senyawa kompleks yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita, karena vitamin C berfungsi membantu pengaturan atau proses kegiatan tubuh. Tanpa vitamin, manusia, hewan dan makhluk hidup lainnya tidak akan mampu melakukan aktivitas hidup. Selain itu, kurangnya asupan vitamin juga dapat menyebabkan semakin besarnya peluang terkena penyakit pada tubuh kita.
Vitamin C merupakan salah satu jenis vitamin yang larut dalam air dan memiliki peranan penting dalam menangkal berbagai jenis penyakit. Vitamin C juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya, yakni asam askorbat. Vitamin C termasuk golongan vitamin antioksidan yang mampu menangkal berbagai radikal bebas ekstraselular. Beberapa karakteristik vitamin C antara lain: sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam.
                                   
Zat besi merupakan mineral yang diperlukan untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Ada dua jenis zat besi yang ditemukan dari makanan, yaitu zat besi heme dan zat besi non-heme. Zat besi heme ditemukan dalam sel darah merah hewan, sedangkan zat besi non-heme bersumber dari tanaman atau sayuran. Zat Besi non-heme akan diserap dengan baik oleh tubuh apabila dikombinasikan bersama dengan vitamin C. Pastikan Anda mendapatkan dosis harian vitamin C yang disarankan, yaitu 250 mg.

5.      Protein
Di Indonesia, sebanyak 24,7% anak umur 24–59 bulan mengkonsumsi energi di bawah kebutuhan minimal (kurang dari 70 persen angka kecukupan gizi). Tingkat konsumsi protein di Sulawesi Utara yang dibawah kebutuhan minimal dengan presentase 30,7 %. Tujuannya untuk mengetahui hubungan antara asupan protein dengan kadar hemoglobin (Hb) pada anak umur 1-3 tahun. Sampel dalam penelitian ini adalah anak umur 1-3 tahun. Data primer adalah data yang di dapatkan melalui pengukuran kadar hemoglobin (Hb) dan data asupan zat gizi yang diperoleh melalui metode food recall. Sebagian besar anak umur 1-3 tahun memiliki asupan protein cukup yaitu berjumlah 57 (61,3%), sedangkan yang memiliki kadar hemoglobin (Hb) normal berjumlah 65 (69,9%). Hubungan yang bermakna antara asupan protein dengan kadar hemoglobin (Hb) dengan nilai 𝜌 = 0,000 (𝜌<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara asupan protein dengan kadar hemoglobin (Hb) pada anak umur 1-3 tahun. Konsumsi protein yang kurang akan mempengaruhi kadar hemoglobin menjadi rendah dan kemungkinan untuk menderita anemia. Oleh karena itu, orang tua anak perlu meningkatkan pengawasan terhadap pola makan anak untuk meningkatkan status gizi anak yang optimal.

Protein merupakan zat gizi yang sangat penting bagi tubuh karena selain berfungsi sebagai sumber energi dalam tubuh juga berfungsi sebagai zat pembangun dan pengatur (Almatsier, 2009). Protein berperan penting dalam transportasi zat besi dalam tubuh. Kurangnya asupan protein akan mengakibatkan transportasi zat besi terhambat sehingga akan terjadi defisiensi besi (Almatsier, 2009). Kekurangan zat besi menyebabkan kadar hemoglobin di dalam darah lebih rendah dari normalnya, keadaan ini disebut anemia (Waryana, 2010). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rosanti (2009) pada balita yang mengatakan bahwa rendahnya konsumsi zat besi akan berpengaruh terhadap status gizi anak balita dan dapat terjadi kekurangan zat besi, sehingga mengakibatkan kadar hemoglobin (Hb) darah menurun dan menyebabkan anemia.
Hemoglobin ialah protein yang kaya akan zat besi. Hemoglobin memiliki afinitas (daya tabung) terhadap oksigen; dengan oksigen itu membentuk oksihemoglobin di dalam sel darah merah. Dengan melalui fungsi ini maka oksigen dibawa dari paru-paru ke jaringan- jaringan (Pearce, 2010).

2.      CACINGAN
A.       Definisi Cacingan
Infeksi cacing atau biasa disebut dengan penyakit cacingan termasuk dalam infeksi yang di sebabkan oleh parasit. Parasit adalah mahluk kecil yang menyerang tubuh inangnya dengan cara menempelkan diri (baik di luar atau di dalam tubuh) dan mengambil nutrisi dari tubuh inangnya. Pada kasus cacingan, maka cacing tersebut bahkan dapat melemahkan  tubuh inangnya dan menyebabkan gangguan kesehatan.
Cacingan dapat menular melalui larva/telur yang tertelan & masuk ke dalam tubuh.Cacing merupakan hewan tidak bertulang yang berbentuk lonjong & panjang yang berawal  dari telur/larva hingga berubah menjadi bentuk cacing dewasa. Cacing dapat menginfeksi  bagian tubuh manapun yang ditinggalinya seperti pada kulit, otot, paru-paru, ataupun  usus/saluran pencernaan. Penyakit cacingan, khususnya pada anak sering dianggap sebagai penyakit yang sepele  oleh sebagian besar kalangan masyarakat. Padahal penyakit ini bisa menurunkan tingkat kesehatan anak. Di antaranya, menyebabkan anemia, IQ menurun, lemas tak bergairah, ngantuk, malas beraktivitas serta berat badan rendah.cacing pada manusia pun banyak jenisnya, ada cacing gelang, cacing pita dan cacing pipih.

a.     Berikut jenis-jenis cacing :
1.    Cacing Gelang: (Ascaris lumbricoides)
2.    Cacing Cambuk: (Tricuris Trichiura)
3.    Cacing Tambang: (Ancylostomiasis)
4.    Cacing Kremi: (Enterobius Vermicularis)

Anak-anak biasanya lebih mudah terinfeksi cacing bila dibandingkan dengan orang dewasa karena untuk selalu mencuci tangan sebelum makan, Mereka belum biasa membedakan makanan yang bersih dan layak dimakan dengan makanan yang tidak diolahdengan bersih dan dimasak dengan benar, sehingga tidak layak untuk dimakan.





Cara Penularan
 
Cacing masuk ke dalam tubuh manusia lewat makanan atau minuman yang tercemar telur-telur cacing. Umumnya, cacing perut memilih tinggal di usus halus yang banyak berisi makanan. Meski ada juga yang tinggal di usus besar. Penularan penyakit cacing dapat lewat berbagai cara, telur cacing bisa masuk dan tinggal dalam tubuh manusia. Ia bisa masuk lewat makanan atau minuman yang dimasak menggunakan air yang tercemar. Jika air yang telah tercemar itu dipakai untuk menyirami tanaman, telur-telur itu naik ke darat. Begitu air mengering, mereka menempel pada butiran debu. Telur yang menumpang pada debu itu bisa menempel pada makanan dan minuman yang dijajakan di pinggir jalan atau terbang ke tempat-tempat yang sering dipegang manusia. Mereka juga bisa berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Setelah masuk ke dalam usus manusia, cacing akan berkembang biak, membentuk koloni dan menyerap habis sari-sari makanan. Cacing mencuri zat gizi, termasuk protein untuk membangun otak.
Setiap satu cacing gelang memakan 0,14 gram karbohidrat dan 0,035 protein per hari. Cacing cambuk menghabiskan 0,005 milimeter darah per hari dan cacing tambang minum 0,2 milimeter darah per hari. Kalau jumlahnya ratusan, berapa besar kehilangan zat gizi dan darah yang digeogotinya. Seekor cacing gelang betina dewasa bisa menghasilkan 200.000 telur setiap hari. Bila di dalam perut ada tiga ekor saja, dalam sehari mereka sanggup memproduksi 600.000 telur.

B.       Pencegahan
Cara terbaik dalam mencegah agar anak anda tidak sampai mengalami cacingan, adalah:
a.              Ajari anak-anak untuk selalu menggunakan alas kaki ketika bermain diluar rumah.
b.             Ajari anak-anak untuk selalu mencuci tangan sebelum menyentuh makanan
c.              Minum obat cacing dosis sekali minum setiap 6 bulan sekali, khususnya di masa libur sekolah dimana anak-anak cenderung lebih sering bermain di luar rumah
d.             Jagalah selalu jari kuku untuk selalu bersih & terawat.
e.              Hindari kebiasaan menggigit kuku/menggaruk bagian anus (terutama untuk infeksi cacing kremi).
f.              Biasakan untuk selalu mandi di pagi hari (terlebih apabila mengalami infeksi cacing kremi).
g.             Biasakan untuk membuka jendela kamar sepanjang hari, karena telur cacing sensitif terhadap sinar matahari (terutama untuk cacing kremi).
h.             Jagalah selalu kebersihan makanan yang dikonsumsi
i.               Biasakan untuk selalu mengkonsumsi daging yang telah dimasak dengan sempurna
   3. KKP (KEKURANGAN KALORI PROTEIN)
   Kekurangan kalori protein adalah defisiensi gizi terjadi pada anak yang kurang mendapat masukan makanan yang cukup bergizi, atau asupan kalori dan protein kurang dalam waktu yang cukup lama (Ngastiyah, 1997).
Kurang kalori protein (KKP) adalah suatu penyakit gangguan gizi yang dikarenakan adanya defisiensi kalori dan protein dengan tekanan yang bervariasi pada defisiensi protein maupun energi (Sediaoetama, 1999).
a.    Klasifikasi KKP
Berdasarkan berat dan tidaknya, KKP dibagi menjadi:
1.   KKP ringan/sedang disebut juga gizi kurang (undernutrition) ditandai oleh adanya hambatan pertumbuhan.
2.   KKP berat, meliputi:
a)      Kwashiorkor (bentuk kekurangan protein yang berat, yang amat sering terjadi pada anak kecil umur 1 dan 3 tahun) adalah suatu sindroma klinik yang timbul sebagai suatu akibat adanya kekurangan protein yang parah dan pemasukan kalori yang kurang dari yang dibutuhkan (Behrman dan Vaughan, 1994). Kwashiorkor adalah penyakit gangguan metabolik dan perubahan sel yang menyebabkan perlemahan hati yang disebabkan karena kekurangan asupan kalori dan protein dalam waktu yang lama (Ngastiyah, 1997).
b)      Marasmus adalah penyakit yang timbul karena kekurangan energi (kalori) sedangkan kebutuhan protein relatif cukup (Ngastiyah, 1997). Marasmus merupakan gambaran KKP dengan defisiensi energi yang ekstrem (Sediaoetama, 1999).
c)      Marasmik-kwashiorkor merupakan kelainan gizi yang menunjukkan gejala klinis campuran antara marasmus dan kwashiorkor (Markum, 1996). Marasmik-kwashiorkor merupakan malnutrisi pada pasien yang telah mengalami kehilangan berat badan lebih dari 10%, penurunan cadangan lemak dan protein serta kemunduran fungsi fisiologi (Graham L. Hill, 2000). Marasmik-kwashiorkor merupakan satu kondisi terjadinya defisiensi, baik kalori, maupun protein. Ciri-cirinya adalah dengan penyusutan jaringan yang hebat, hilangnya lemak subkutan dan dehidrasi.
b.      Tanda-tanda KKP
1.         KKP Ringan


a)      Pertumbuhan linear terganggu.
b)      Peningkatan berat badan berkurang, terhenti, bahkan turun.
c)      Ukuran lingkar lengan atas menurun.
d)     Maturasi tulang terlambat.
e)      Ratio berat terhadap tinggi
f)       normal atau cenderung menurun.
g)      Anemia ringan atau pucat.
h)      Aktifitas berkurang.
i)        Kelainan kulit (kering, kusam).
j)        Rambut kemerahan.



2.         KKP Berat
a)      Gangguan pertumbuhan.
b)      Mudah sakit.
c)      Kurang cerdas.
d)     Jika berkelanjutan menimbulkan kematian.
c.       Cara Penyembuhan
1.         Pengobatan
a.       Memberikan makanan yang mengandung banyak protein bernilai biologik tinggi, tinggi kalori, cukup cairan, vitamin dan mineral.
b.      Makanan harus dihidangkan dalam bentuk yang mudah dicerna dan diserap.
c.       Makanan diberikan secara bertahap, karena toleransi terhadap makanan sangat rendah. Protein yang diperlukan 3-4 gr/kg/hari, dan kalori 160-175 kalori.
d.      Antibiotik diberikan jika anak terdapat penyakit penyerta.
e.       Tindak lanjut berupa pemantauan kesehatan penderita dan penyuluhan gizi terhadap keluarga.

d.      Penyebab KKP
Penyebab langsung dari KKP adalah defisiensi kalori maupun protein dengan berbagai tekanan sehingga terjadi spektrum gejala-gejala dengan berbagai nuansa dan melahirkan klasifikasi klinik (kwashiorkor, marasmus, marasmus-kwashiorkor).
Penyebab tak langsung dari KKP sangat banyak sehingga penyakit ini disebut juga sebagai penyakit dengan causa multifaktorial. Berbagai faktor pengertian KKP dan antarhubungannya sudah banyak dianjurkan berbagai bentuk sistem holistik, yang menggambarkan interelasi antar faktor dan menuju ke titik pusat KKP tersebut. Berikut ini merupakan sistem holistik penyebab multifaktorial menuju ke arah terjadinya KKP:
1.      Ekonomi negara yang kurang
2.      Pendidikan umum kurang
3.      Produksi bahan pangan yang rendah
4.      Kondisi hygine yang kurang baik
5.      Jumlah anak yang telalu banyak
6.      Pekerjaan yang rendah
7.      Penghasilan yang kurang pasca panen
8.      Sistem perdagangan dan distribusi yang tidak lancar serta tidak merata.
9.      Daya beli rendah
10.  Persediaan pangan kurang
11.  Penyakit infeksi dan Inventasi cacing

                             Pada lapisan terdalam, sebab langsung dari KKP adalah konsumsi kurang dan sebab tak langsungnya hambatan absorpsi dan hambatan utilisasi zat-zat gizi berbagai hal, misalnya karena penyakit. KKP sebab primer (langsung) disebut KKP primer dan yang disebabkan faktor tak langsung disebut KKP sekunder. Penyakit infeksi dan infestasi cacing dapat memberikan hambatan absorpsi dan hambatan utilisasi zat gizi yang menjadi dasar timbulnya KKP.

e.       Cara Menanggulangi KKP
KKP merupakan salah satu masalah serius yang sedang dihadapi Indonesia. Kita dapat berusaha agar KKP dapat dikuragi. Berikut adalah cara-cara pencegahannya :
1. Tingkat keluarga
a) Ibu membawa balita ke posyandu untuk ditimbang
Pertumbuhan balita dapat diketahui apabila setiap bulan ditimbang, hasil penimbangan dicatat di KMS, dan antara titik berat badan KMS dari hasil penimbangan bulan lalu dan hasil penimbangan bulan ini dihubungkan dengan sebuah garis. Rangkaian garis-garis pertumbuhan anak tersebut membentuk grafik pertumbuhan anak. Pada balita yang sehat, berat badannya akan selalu naik, mengikuti pita pertumbuhan sesuai dengan umurnya (Depkes RI, 2000).

a) Balita naik berat badannya bila :
(1) Garis pertumbuhannya naik mengikuti salah satu pita warna, atau
            (2) Garis pertumbuhannya naik dan pindah ke pita warna  diatasnya.










       Gambar 2.1. Indikator KMS bila balita naik berat badannya

    b) Balita tidak naik berat badannya bila :
Garis pertumbuhannya turun, atau
Garis pertumbuhannya mendatar, atau
                                    Garis pertumbuhannya naik, tetapi pindah ke pita warna dibawahnya.







Gambar 2.2. Indikator KMS bila balita tidak naik berat badannya

   c) Berat badan balita dibawah garis merah artinya pertumbuhan balita mengalami gangguan pertumbuhan dan perlu perhatian khusus, sehingga harus langsung dirujuk ke Puskesmas/ Rumah Sakit.
Gambar 2.3. Indikator KMS bila berat badan balita dibawah garis merah
d) Berat badan balita tiga bulan berturut-turut tidak nail (3T), artinya balita mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga harus langsung dirujuk ke Puskesmas/ Rumah Sakit.
Gambar 2.4. Indikator KMS bila berat badan balita tidak stabil
e) Balita tumbuh baik bila: Garis berat badan anak naik setiap bulannya.
Gambar 2.5. Indikator KMS bila berat badan balita naik setiap bulan
        
        f) Balita sehat, jika : Berat badannya selalu naik mengikuti salah satu pita            warna atau pindah ke pita warna diatasnya.









Gambar 2.6. Indikator KMS bila pertumbuhan balita sehat

b) Memberi ASI Eksklusif pada usia sampai enam bulan
c) Memberi makanan pendukung ASI yang mengandung berbagai gizi (kalori, vitamin, mineral) setelah berusia 6 bulan
d) Memberitahukan petugas kesehatan bila balita mengalami sakit
e) Menghindari pemberian makanan buatan kepada anak-anak untuk menggantikan ASI sepanjang ibu masih mampu menghasilkan ASI
f) Melindungi anak dari kemungkinan menderita diare dan dehidrasi dengan cara memelihara kebersihan, menggunakan air masak untuk minum, mencuci alat pembuat susu dan makanan bayi serta penyediaan oralit
g) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari. 
Tindakan pencegahan terhadap marasmus menurut Rani et al (1998) dapat dilaksanakan dengan baik bila penyebab diketahui. Usaha-usaha tersebut memerlukan sarana dan prasarana kesehatan yang baik untuk pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi. Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi yang paling baik untuk bayi. Ditambah dengan pemberian makanan tambahan yang bergizi pada umur 6 tahun ke atas. Pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan kebersihan lingkungan dan kebersihan perorangan, pemberian imunisasi, dan mengikuti program keluarga berencana untuk mencegah kehamilan terlalu kerap. Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat merupakan usaha pencegahan jangka panjang. Pemantauan (surveillance) yang teratur pada anak di daerah yang endemis kurang gizi, dengan cara penimbangan berat badan tiap bulan.
g) Mengatur jarak kehamilan ibu agar ibu cukup waktu untuk merawat dan mengatur makanan yang bergizi untuk buah hati mereka

2. Tingkat posyandu
a) Kader melakukan penimbangan pada balita setiap bulan di posyandu
b) Kader memberikan penyuluhan tentang makanan pendukung ASI (MP-ASI)
c) Kader memberikan pemulihan bayi balita yang berada di garis merah (PMT) contoh : KMS
d) Pemberian imunisasi untuk melindungi anak dari penyakit infeksi seperti TBC, polio dan ada pula beberapa imunisasi dasar, antara lain :
1) BCG
2) DPT
3) Polio
4) Hepatitis B3
5) Campak
Tambahan :
1) HiB (meningitis)
2) PCV / IPD (pnemokokus)
3) MMR
4) Influenza



























BAB III
PENUTUP

1.1  Kesimpulan
Anemia, cacingan, dan KKP merupakan penyakit yang sering diderita oleh masyarakat. Penyebabnya sangat beragam. Anemia dapat diketahui dengan pemeriksaan fisik maupun dengan laboratorium. Pengaruh cacingan bisa sangat mengganggu terutama pada anak-anak. Cacingan masih menjadi masalah kesehatan yang mendasar di negeri ini. Selain itu asupan gizi yang kurang dapat mempengaruhi proses pertumbuhan.


1.2  Saran
Pemerintah harus lebih aktif untuk menanggulangi dan memperhatikan masalah-masalah gizi khususnya di daerah pedalaman. Masyarakat pun harus ikut serta terlibat dalam penanggulangan masalah ini, supaya ingat bahwa pentingnya gizi untuk tubuh kita.






DAFTAR PUSTAKA

Arisman,MB.2010.Gizi Dalam Daur Kehidupan.Jakarta:Buku Kedokteran EGC

Atikah P, Erna K. 2011.  Ilmu Gizi untuk Keperawatan dan Gizi Kesehatan. Yogyakarta: Muha Medika.

Indra, wulandari yettik. 2013. Prinsip Prinsip Dasar Ahli Gizi. Jakarta Timur: Dunia cerdas

Widyastuti,Agustin,Hardiyanto.(Peneterjemah).2008.GiziKesehatan Masyarakat.Jakarta:

Dewi, Pujiastuti N, Ibnu Fajar. 2013. Ilmu Gizi untuk praktisi kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu Ruko Jambusari No.7 A


Tidak ada komentar:

Posting Komentar