BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Anemia, cacingan, dan KKP adalah penyakit
yang sering di derita oleh masyarakat. Penyebabnya sangat beragam. Ada beberapa
faktor yang mempengaruhi diantaranya yaitu kurangnya kesadaran untuk melakukan
pola hidup sehat.
Cacingan yang dianggap sepele dapat
mengakibatkan infeksi ringan yang sangat mengganggu terutama pada anak-anak
yang dalam masa pertumbuhan. Infeksi ringan dapat mnegakibatkan anemia dengan
berbagai manifestasi klinis, baik yang terlihat secara nyata maupun yang tidak
terlihat. Sedangkan dalam kasus infeksi yang sedang sampai dengan berat dapat
mengganggu proses penyerapan makanan sehingga zat-zat gizi tidak dapat diserap
dengan baik oleh tubuh.
Upaya-upaya untuk menangani penyakit
tersebut merupakan tindakan-tindakan preventif. Perbaikan harus ditujukan pada
faktor-faktor penyebab lapis terdalam maupun terluar. Seperti perbaikan ekonomi
Negara, peningkatan pendidikan umum dan pendidikan gizi, penerangan serta
penyuluhan gizi, peningkatan produksi bahan makanan. Selain itu juga adanya
perbaikan kondisi keluarga dan para anggota keluarga.
1.2
Rumusan
Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan anemia?
2. Apa
penyebab umum anemia?
3. Apa
saja faktor terkena anemia?
4. Bagaimana pencegahan anemia?
5. Apa
yang dimaksud dengan cacingan?
6. Bagaiman
cara pencegahan penyakit cacingan?
7. Apa
yang dimaksud dengan KKP?
8. Apa
saja penyebab KKP?
9. Bagaimana
cara penanggulangan KKP?
1.3
Tujuan
1. Untuk
mengetahui pengertian anemia.
2. Untuk
mengetahui penyebab umum anemia.
3. Untuk
mngetahui faktor-faktor apabila terkena anemia.
4. Untuk
mengetahui pencegahan anemia.
5. Untuk
mengetahui pengertian cacingan.
6. Untuk
mengetahui cara pengobatan cacingan.
7. Untuk
mengetahui pengertian KKP.
8. Untuk
mengetahui penyebab KKP.
9. Untuk
mengetahui penanggulangan KKP.
1.4
Manfaat
Agar
mahasiswa dapat memahami penyakit cacingan, anemia, dan KKP. Faktor-faktor
penyebabnya, dan cara penanggulangannya.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
1.
ANEMIA
Anemia
atau kurang darah adalah kondisi dimana hemoglobin (protein pembawa oksigen)
dalam sel darah merah berada di bawah normal.Hemoglobin berperan untuk
mengangkut oksigen dari paru-paru dan menyalurkannya ke seluruh tubuh. Orang
yang terkena anemia akan mengalami kekurangan oksigen untuk menghasilkan
energi, maka penderita anemia terlihat pucat, capat lelah, sesak nafas, bahkan
gelisah. Selain itu, penderita anemia akan terlihat pucat di bagian lidah dan
kelopak mata.
a. Penyebab
umum anemia:
1)
Kekurangan vitamin B12
3)
Gangguan sumsum tulang
4)
Pendarahan
5)
Kekurangan zat besi
6)
Mengalami pendarahan usus
7)
Faktor genetik
Anemia
terjadi karena tubuh kekurangan sel darah merah, kehilangan banyak sel darah
merah, atau mematikan sel darah merah lebih banyak daripada menggantikannya.
Berikut ini beberapa jenis anemia dan penyebabnya:
1. Iron deficiency anemia
Penyebab: kekurangan zat besi dalam tubuh. Sumsum tulang
membutuhkan zat besi untuk membuat hemoglobin.Jadi, tanpa zat besi yang cukup,
tubuh tidak memproduksi hemoglobin yang cukup untuk sel darah merah
2. Vitamin
deficiency anemia
Sebagai tambahan dari zat besi, tubuh juga membutuhkan folat
dan vitamin B12 untuk menghasilkan sel darah merah yang cukup.Oleh karena
asupan makanan seseorang yang kurang kandungan zat tersebut dapat mengakibatkan
penurunan produksi sel darah merah.Namun ada juga orang yang tidak bisa
menyerap vitamin B12 dengan efektif.
3. Anemia of
chronic disease
4. Aplastic
anemia
5. Anemias
assosiated with bone marrow disease
6. Hemolytic
anemias
7. Sickle
cell anemia
8. Anemia
lain
b. Berikut
ini adalah gejala anemia yang dilansir Boldsky:
1. Kelopak mata pucat
2. Cepat lelah
3. Sering mual
4. Sakit kepala
5. Ujung jari pucat
6. Sesak napas
7. Denyut jantung tidak teratur
8. Wajah pucat
9. Rambut rontok
10. Kekebalan tubuh menurun
c. Faktor
terkena anemia:
1. Rendahnya asupan gizi pada makanan.
2. Gangguan kesehatan usus kecil atau
operasi yang berkenaan dengan usus kecil.
3. Menstruasi.
4. Kehamilan.
5. Kondisi kronis seperti kanker, gagal
ginjal, atau kegagalan hati.
6. Faktor genetik/keturunan.
7. Infeksi tertentu seperti gangguan
darah dan autoimun, terkena racun kimia, dan menggunakan beberapa obat yang
berpengaruh pada produksi sel darah merah.
8. Diabetes, alkohol, dan orang yang
menjadi vegetarian ketat dan kurang asupan zat besi atau vitamin B12 pada
makanannya.
d. Pencegahan
Anemia
Banyak jenis anemia yang tidak dapat
dicegah, namun untuk menghindari iron dificeincy anemia dan vitamin
difesiency anemia dapat dicegah dengan makan makanan yang mengandung:
1. Zat besi
Memastikan konsumsi zat besi secara teratur untuk memenuhi kebutuhan tubuh
dan untuk meningkatkan kandungan serta bioavailabilitas (ketersediaan hayati)
zat besi dalam makanan. Ada empat pendekatan utama :
a.
Penyediaan suplemen zat besi
Prinsip esensial dalam manajemen anemia
karena defisiensi zat besi adalah terapi sulih zat besi dan penanganan penyebab
yang mendasar seperti infeksi parasit atau perdarahan gastrointestinal. Terapi
zat besi per oral merupakan bentuk penanganan yang disukai.
Ferro sulfat merupakan preparat zat
besi oral yang paling murah dan banyak digunakan. Dosis total yang ekuivalen
dengan 60 mg zat besi elemental (300 mg ferro sulfat) Per hari sudah cukup bagi
orang dewasa dan harus diberikan di antara saat saat makan pada pagi hari atau
pada waktu tidur. Pada bayi dan anak kecil, pemberian 30 mg besi elemental per
hari sudah memadai. Umumnya setelah waktu lebih dari 4 minggu akan terjadi
kenaikan kadar hemoglobin sekitar 2g/dl. Penting untuk diingat bahwa terapi zat
besi harus lanjutkan selama sekitar 3 bulan sekalipun kadar hemoglobin sudah
kembali normal. Pada kasus anemia karena defisiensi zat besi yang berat dengan
kadar hemoglobin berkisar 5-7g/dl dianjurkan untuk transfusi dengan preparat
packed-cell. Efek samping yang lazim terjadi pada suplementasi zat besi adalah
mual, konstipasi, tinja berwarna hitam, dan diare. Risiko efek samping tersebut
sebanding dengan dosis zat besi yang diberikan. Ketidakpatuhan pasien dalam
menjalani terapi merupakan penyebab utama ketidakberhasilan dalam merespons
terapi dan diperlukan konseling individual yang dilaksanakan dengan tepat serta
simultan.
Pemberian zat besi secara oral
merupakan terapi pilihan untuk pencegahan anemia karena defisiensi zat besi.
Pada umumnya, pemberian suplemen setiap hari yang berisi sekitar 100 mg besi
elemental direkomendasikan selama periode waktu sekitar 100 hari bagi kelompok
populasi yang paling rentan, seperti ibu hamil. Dosis pemberian ditetapkan
dengan mempertimbangkan efektivitas biologis dan efek samping. Efek samping
yang lazim dijumpai pada terapi zat besi per oral adalah gangguan
gastrointestinal seperti konstipasi dan tinja yang berwarna hitam. Penggunaan
terapi dalam waktu yang lama dapat menimbulkan nyeri pada sendi. Keberhasilan
program semacam ini bergantung pada distribusi suplemen zat besi dengan jumlah
yang adekuat dan kepatuhan individual menghadap pengobatan. Sedapat mungkin
kelahiran bayi dilaksanakan melalui sitem persalinan yang sudah ada. Pengalaman
di India merupakan contoh kekurangan pada program tersebut ketika diujicobakan
dalam skala besar. Pada tahun 1970, India mengadopsi program nasional
suplementasi dengan pemberian tablet zat besi dan asam folat tiap hari ( selama
100 hari ) kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak yang kecil. Hasil
evaluasi program ini menunjukkan tidak adanya perubahan pada prevalensi anemia
karena defisiensi zat besi di negara tersebut sebagai akibat dari pasokan
suplemen yang tidak mencukupi dan tidak teratur. Demikian pula, hal yang sama
terjadi di Indonesia. Meskipun telah dilakukan distribusi 120 mg zat besi per
hari selama 3 bulan bagi semua ibu yang hamil sudah dilaksanakan selama periode
10 tahun, namun pravalensi anemia defisiensi besi tetap tinggi.
Sayangnya, dengan kondisi sosioekonomi
yang terjadi sekarang ini dengan asupan zat besi dari makanan tidak lagi
memadai, para ibu hamil di negeri berkembang tetap memerlukan suplementasi
untuk memenuhi kebutuhan mereka akan zat besi. Karena alasan inilah kita
dituntut untuk dapat menemukan program alternatif suplementasi seperti
pemberian besi lepas-lambat. Pemakaian preparat zat besi lepas lambat dapat
memberikan manfaat yang sama seperti halnya pemakaian zat besi dalam dosis
rendah dengan efek samping yang sangat sedikit. Suplementasi zat besi mingguan
sebagai pengganti pemberian zat besi harian juga sudah diusulkan; cara ini
dapat menghasilkan penyerapan zat besi yang lebih besar kendati mungkin hanya
efektif jika dilaksanakan dalam kondisi diawasi.
b.
Fortifikasi bahan pangan yang biasa dikonsumsi dengan zat
besi
Fortifikasi zat besi pada beberapa
bahan pangan yang lazim dikonsumsi merupakan pilihan menarik untuk mengatasi
permasalahan asupan zat besi yang tidak memadai dalam masyarakat. Bahan pangan
yang dijadikan fortifikan dan pembawa harus aman dan efektif. Jenis-jenis bahan
pangan yang berhasil dijadikan pembawa bagi fortifikasi pangan adalah gandum,
roti, tepung susu, garam, susu formula bayi, dan gula. Negara Swedia memiliki
sejarah panjang fortifikasi zat besi pada tepung gandum dengan takaran 65 mg
zat besi/kg tepung. Di AS, tepung gandum juga difortifikasi dengan zat besi
(44mg/kg). Di India, hasil uji coba di lapangan yang melibatkan banyak pihak
menunjukkan bahwa garam biasa yang difortifikasi dengan zat besi ternyata
efektif untuk menurunkan prevalensi anemia karena defisiensi zat besi pada
masyarakat pedesaan.
c.
Edukasi gizi
Upaya yang ekstensif dan persuasif
diperlukan untuk menimbulkan perubahan perilaku dalam masyarakat agar
orang-orang dalam masyarakat tersebut mau mengadopsi diversifikasi pangan. Pada
akhirnya, satu-satunya solusi yang bertahan lama dalam pemecahan persoalan
anemia karena defisiensi zat besi adalah dengan membantu masyarakat mengonsumsi
makanan yang kaya dengan zat besi secara teratur, mendorong asupan promotor
absorpsi besi seperti vitamin C, dan mencegah konsumsi faktor-faktor penghambat
yang berlebihan. Pendekatan berikut ini dianggap paling penting dalam
pencegahan dan pengendalian anemia gizi secara umum:
1.
meningkatkan konsumsi bahan pangan yang kaya akan zat
besi seperti kacang-kacangan, sayuran hijau, jenis sayuran lainnya dan daging.
2.
Mendorong konsumsi secara teratur bahan pangan yang kaya
akan vitamin C seperti jeruk sitrus, jambu, dan kiwi.
3.
Meningkat penambahan bahan pangan yang kaya akan zat besi
pada makanan tambahan bagi bayi
4.
Menyarankan untuk tidak mengonsumsi bahan pangan yang
dapat menghambat absorpsi besi, khususnya bagi wanita dan anak-anak.
d.
Pendekatan berbasis hortikultur untuk memperbaiki
ketersediaan hayati zat besi pada bahan pangan yang umum
Strategi hortikultural
untuk mendorong produksi buah dan sayuran yang kaya akan zat besi merupakan
komponen penting dalam pendekatan jangka panjang untuk mengendalikan dan
mencegah anemia karena defisiensi zat besi di negara berkembang. Ironisnya,
pada negara yang sudah tersedia berbagai ragam bahan pangan yang kaya akan zat
besi dan promotor absorpsi besi, tetapi anemia karena defisiensi zat besi tetap
menjadi persoalan yang prevalen. Di tingkat pemerintahan, terdapat tuntutan
untuk menambahkan komponen gizi ke dalam semua program hortikultural dan sosial
kehutanan, sementara di tingkat rumah tangga harus dilakukan berbagai upaya
untuk mendorong produksi sayuran. Kebun rumah merupakan salah satu pendekatan
yang dapat berlanjut untuk mengendalikan anemia karena defisiensi zat besi pada
masyarakat pedesaan yang miskin. Di sisi lain, ketika masyarakat yang sudah
terlibat dalam kegiatan pertanian memerlukan edukasi dan peluasan pengetahuan
untuk meningkatkan produksi bahan pangan bergizi pada kebun-kebun di rumah
mereka. Keuntungan berkebun di rumah adalah bahwa kegiatan ini akan
memfasilitasi konsumsi nutrien yang beragam. Pada kasus anemia karena
defisiensi zat besi, kegiatan berkebun di rumah akan memfasilitasi diikutsertakannya
produk promoter absorpsi besi ke dalam makanan penduduk di samping menyediakan
pula jenis-jenis bahan pangan yang kaya akan zat besi.
2. Folat
Anda dapat menurunkan risiko
terkena anemia defisiensi folat dengan diet seimbang yang mengandung cukup
folat. Direkomendasikan, jumlah folat untuk dikonsumsi setiap hari adalah 200
mikrogram (ug). Umumnya, jika seseorang sudah cukup mengonsumsi sayuran,
buah-buahan dan kacang-kacangan, tidak perlu lagi untuk mengonsumsi suplemen.
Folat dapat rusak oleh panas,
sehingga buah dan sayuran yang dalam keadaan mentah mengandung lebih tinggi
folat ketimbang yang telah dimasak. Roti dan sereal yang telah diperkaya dengan
vitamin juga merupakan sumber folat yang baik. Sumber folat yang bagus di
antaranya beras cokelat, kol brussel, brokoli, asparagus, kacang polong, kacang
arab.
Namun jika Anda memiliki gangguan
dalam penyerapan nutrisi tubuh, atau jika sedang hamil, maka mungkin perlu
untuk mengonsumsi suplemen. Mintalah saran dokter untuk hal ini.
3. Vitamin B12
Vitamin B12 adalah suatu vitamin yang sangat
kompleks molekulnya, yang mengandung sebuah atom kobal yang terikat mirip
dengan besi terikat dalam hemoglobin atau magnesium dalam klorofil. Sumber yang
mengandung vitamin B12 yaitu bisa ditemukan pada daging, ikan,
telur, dan susu. Orang yang hanya makan sayuran (vegetarian) dapat melindungi
diri sendiri melawan defisiensi (kekurangan) dengan menambah konsumsi susu,
keju dan telur. Hal ini berarti sekitar satu cangkir susu atau satu butir telur
untuk satu harinya.
Untuk seorang vegetarian yang tidak
memakan semua produk dari hewan dapat memperoleh sumber vitamin B12 dari
susu kedelai atau ragi yang sudah ditumbuhkan dalam lingkungan yang kaya akan
vitamin B12. Sumber lainnya adalah miso (produk fermentasi
kedelai, semacam tauco) dan tempe (terutama yang dibuat secara tradisional).
Pada tempe buatan pabrik tidak ditemukan kobalamin. Bagi kaum vegetarian yang
akan meningkatkan jumlah vitamin B12, dapat makan
sereal ataupun susu kedelai yang diperkaya dengan vitamin dan mineral.
Vitamin ini bersifat larut dalam air, dan dapat
disintetis oleh bakteri dalam usus. Vitamin B12 ini berbeda dengan vitamin larut air
lainnya tidak cepat dikeluarkan dalam urin, tetapi dikumpulkan dan disimpan
dalam hati, ginjal dan beberapa jaringan tubuh.
Kekurangan vitamin B12 tidak saja terjadi karena asupannya
yang kurang. Asupan vitamin lain berlebihan pun dapat mengakibatkan defisiensi
vitamin B12. Misalnya,
karena berlebihan mengkonsumsi vitamin C.
Perlu diketahui bahwa kebutuhan
vitamin B12 berbeda-beda tergantung dari usianya. Usia 0 sampai 3 tahun
membutuhkan 400-900 nanogram vitamin B12 setiap hari. Usia 4 sampai 13 tahun
membutuhkan 1,2-2,4 mcg vitamin B12 setiap hari. Usia 14 tahun keatas
membutuhkan 2,4-2,8 mcg vitamin B12 setiap hari. Cegah tentu dengan
mengkonsumsi makanan bervitamin B12, banyak daging terutama lebih baik. Daging
hewani yang banyak protein seperti daging ikan bisa Anda konsumsi jika Anda
terhalang dengan daging sapi atau kambing yang berkolesterol tinggi dan menghindari
tekanan darah tinggi. Jika Anda tidak juga dapat juga memenuhi kebutuhan
vitamin B12 pada daging-dagingan, Anda bisa mengkonsumsi sayuran fermentasi
seperti tahu, miso atau tempe.
Selain itu, makan makanan olahan
rumput laut, ganggang yang berupa agar-agar atau jelly juga dapat membantu Anda
memenuhi kebutuhan vitamin B12. Hindari menjadi vegetarian. Kekurangan asupan
vitamin B12 karena terlalu banyak makan sayuran tanpa diikuti oleh kebutuhan
vitamin B12 dari sumber hewani sama saja Anda mengundang penyakit akibat
kekurangan vitamin B12. Cegah juga kekurangan vitamin B12 dengan mengkonsumsi
suplemen multivitamin. Atau konsultasikan ke dokter untuk dapat suplemen
vitamin yang tepat.
Sumber
alami vitamin B12 terdapat pada sumber hewani dan sayuran. Akan dijelaskan
kandungan vitaminnya pada setiap sumber alami vitamin B12 ini. Sarden takaran
3,2 ons mengandung vitamin B12 8,11 mcg. Salmon takaran 4 ons mengandung 6,58
vitamin B12. Daging rusa takaran 4 ons mengandung vitamin B12 sebanyak 3,47
mcg. Udang takaran 4 ons mengandung vitamin B12 sebanyak 1,69 mcg. Kerang
takaran 4 ons mengandung vitamin B12 sebanyak 1,47 mcg. Daging domba takaran 4
ons mengandung vitamin B12 sebanyak 2,45 mcg. Susu takaran satu cangkir
mengandung vitamin B12 sebanyak 1,29 mcg. Ikan cod takaran 4 ons mengandung
vitamin B12 1,18. Ikan halibut takaran 4 ons mengandung vitamin B12 sebanyak
1,55 mcg. Yogurt takaran satu cangkir mengandung vitamin B12 sebanyak 1,37 mcg.
Daging sapi takaran 4 ons mengandung vitamin B12 sebanyak 1,8 mcg. Telur
takaran setiap 1 butirnya mengandung vitamin B12 sebanyak 0,55 mcg.
4. Vitamin C
Sayuran daun hijau merupakan salah satu bahan pangan yang
baik sebagai sumber vitamin dan mineral, terutama vitamin C, provitamin A, zat
besi dan kalsium. Semua zat gizi tersebut mempunyai fungsi penting sebagai
pengatur reaksi metabolisme untuk pemeliharaan dan pertumbuhan jaringan tubuh,
dan vitamin C mempunyai peranan yang cukup besar dalam membantu penyerapan zat
besi dari makanan yang dikonsumsi.
Vitamin C adalah suatu zat senyawa kompleks yang sangat
dibutuhkan oleh tubuh kita, karena vitamin C berfungsi membantu pengaturan atau
proses kegiatan tubuh. Tanpa vitamin, manusia, hewan dan makhluk hidup lainnya
tidak akan mampu melakukan aktivitas hidup. Selain itu, kurangnya asupan
vitamin juga dapat menyebabkan semakin besarnya peluang terkena penyakit pada
tubuh kita.
Vitamin C merupakan salah satu
jenis vitamin yang larut dalam air dan memiliki peranan penting
dalam menangkal berbagai jenis penyakit. Vitamin C juga dikenal dengan
nama kimia dari bentuk utamanya, yakni asam askorbat. Vitamin C
termasuk golongan vitamin antioksidan yang mampu menangkal
berbagai radikal bebas ekstraselular. Beberapa karakteristik vitamin C
antara lain: sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya,
dan logam.
Zat besi merupakan mineral yang diperlukan untuk
mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Ada dua jenis zat besi yang ditemukan dari
makanan, yaitu zat besi heme dan zat besi non-heme. Zat
besi heme ditemukan dalam sel darah merah hewan, sedangkan zat besi
non-heme bersumber dari tanaman atau sayuran. Zat Besi non-heme akan
diserap dengan baik oleh tubuh apabila dikombinasikan bersama dengan vitamin C. Pastikan Anda mendapatkan dosis harian vitamin C yang
disarankan, yaitu 250 mg.
5.
Protein
Di
Indonesia, sebanyak 24,7% anak umur 24–59 bulan mengkonsumsi energi di bawah
kebutuhan minimal (kurang dari 70 persen angka kecukupan gizi). Tingkat
konsumsi protein di Sulawesi Utara yang dibawah kebutuhan minimal dengan
presentase 30,7 %. Tujuannya untuk mengetahui hubungan antara asupan protein
dengan kadar hemoglobin (Hb) pada anak umur 1-3 tahun. Sampel dalam penelitian
ini adalah anak umur 1-3 tahun. Data primer adalah data yang di dapatkan
melalui pengukuran kadar hemoglobin (Hb) dan data asupan zat gizi yang
diperoleh melalui metode food recall. Sebagian besar anak umur 1-3 tahun
memiliki asupan protein cukup yaitu berjumlah 57 (61,3%), sedangkan yang
memiliki kadar hemoglobin (Hb) normal berjumlah 65 (69,9%). Hubungan yang
bermakna antara asupan protein dengan kadar hemoglobin (Hb) dengan nilai 𝜌
= 0,000 (𝜌<0,05).
Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara asupan protein
dengan kadar hemoglobin (Hb) pada anak umur 1-3 tahun. Konsumsi protein yang
kurang akan mempengaruhi kadar hemoglobin menjadi rendah dan kemungkinan untuk
menderita anemia. Oleh karena itu, orang tua anak perlu meningkatkan pengawasan
terhadap pola makan anak untuk meningkatkan status gizi anak yang optimal.
Protein
merupakan zat gizi yang sangat penting bagi tubuh karena selain berfungsi
sebagai sumber energi dalam tubuh juga berfungsi sebagai zat pembangun dan
pengatur (Almatsier, 2009). Protein berperan penting dalam transportasi zat
besi dalam tubuh. Kurangnya asupan protein akan mengakibatkan transportasi zat
besi terhambat sehingga akan terjadi defisiensi besi (Almatsier, 2009).
Kekurangan zat besi menyebabkan kadar hemoglobin di dalam darah lebih rendah
dari normalnya, keadaan ini disebut anemia (Waryana, 2010). Hal ini sejalan
dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rosanti (2009) pada balita yang
mengatakan bahwa rendahnya konsumsi zat besi akan berpengaruh terhadap status
gizi anak balita dan dapat terjadi kekurangan zat besi, sehingga mengakibatkan
kadar hemoglobin (Hb) darah menurun dan menyebabkan anemia.
Hemoglobin ialah protein yang kaya akan zat besi.
Hemoglobin memiliki afinitas (daya tabung) terhadap oksigen; dengan oksigen itu
membentuk oksihemoglobin di dalam sel darah merah. Dengan melalui fungsi ini
maka oksigen dibawa dari paru-paru ke jaringan- jaringan (Pearce, 2010).
2. CACINGAN
A. Definisi Cacingan
Infeksi cacing atau biasa disebut
dengan penyakit cacingan termasuk dalam infeksi yang di sebabkan oleh parasit.
Parasit adalah mahluk kecil yang menyerang tubuh inangnya dengan cara
menempelkan diri (baik di luar atau di dalam tubuh) dan mengambil nutrisi dari
tubuh inangnya. Pada kasus cacingan, maka cacing tersebut bahkan dapat
melemahkan tubuh inangnya dan
menyebabkan gangguan kesehatan.
Cacingan
dapat menular melalui larva/telur yang tertelan & masuk ke dalam
tubuh.Cacing merupakan hewan tidak bertulang yang berbentuk lonjong &
panjang yang berawal dari telur/larva
hingga berubah menjadi bentuk cacing dewasa. Cacing dapat menginfeksi bagian tubuh manapun yang ditinggalinya
seperti pada kulit, otot, paru-paru, ataupun
usus/saluran pencernaan. Penyakit cacingan, khususnya pada anak sering
dianggap sebagai penyakit yang sepele
oleh sebagian besar kalangan masyarakat. Padahal penyakit ini bisa
menurunkan tingkat kesehatan anak. Di antaranya, menyebabkan anemia, IQ
menurun, lemas tak bergairah, ngantuk, malas beraktivitas serta berat badan
rendah.cacing pada manusia pun banyak jenisnya, ada cacing gelang, cacing pita
dan cacing pipih.
a. Berikut jenis-jenis cacing :
1. Cacing Gelang: (Ascaris
lumbricoides)
2. Cacing Cambuk: (Tricuris Trichiura)
3. Cacing Tambang: (Ancylostomiasis)
4. Cacing Kremi: (Enterobius
Vermicularis)
Anak-anak
biasanya lebih mudah terinfeksi cacing bila dibandingkan dengan orang dewasa karena untuk selalu mencuci
tangan sebelum makan, Mereka belum biasa membedakan makanan yang bersih dan layak dimakan
dengan makanan yang tidak diolahdengan bersih dan dimasak dengan benar,
sehingga tidak layak untuk dimakan.
Cara Penularan
Cacing masuk ke dalam tubuh manusia lewat makanan atau minuman yang
tercemar telur-telur cacing. Umumnya, cacing perut memilih tinggal di usus
halus yang banyak berisi makanan. Meski ada juga yang tinggal di usus besar.
Penularan penyakit cacing dapat lewat berbagai cara, telur cacing bisa masuk
dan tinggal dalam tubuh manusia. Ia bisa masuk lewat makanan atau minuman yang
dimasak menggunakan air yang tercemar. Jika air yang telah tercemar itu dipakai
untuk menyirami tanaman, telur-telur itu naik ke darat. Begitu air mengering,
mereka menempel pada butiran debu. Telur yang menumpang pada debu itu bisa
menempel pada makanan dan minuman yang dijajakan di pinggir jalan atau terbang
ke tempat-tempat yang sering dipegang manusia. Mereka juga bisa berpindah dari
satu tangan ke tangan lain. Setelah masuk ke dalam usus manusia, cacing akan
berkembang biak, membentuk koloni dan menyerap habis sari-sari makanan. Cacing
mencuri zat gizi, termasuk protein untuk membangun otak.
Setiap satu cacing gelang memakan 0,14 gram karbohidrat dan 0,035 protein
per hari. Cacing cambuk menghabiskan 0,005 milimeter darah per hari dan cacing
tambang minum 0,2 milimeter darah per hari. Kalau jumlahnya ratusan, berapa
besar kehilangan zat gizi dan darah yang digeogotinya. Seekor cacing gelang
betina dewasa bisa menghasilkan 200.000 telur setiap hari. Bila di dalam perut
ada tiga ekor saja, dalam sehari mereka sanggup memproduksi 600.000 telur.
B. Pencegahan
Cara
terbaik dalam mencegah agar anak anda tidak sampai mengalami cacingan, adalah:
a.
Ajari anak-anak untuk selalu menggunakan alas kaki ketika
bermain diluar rumah.
b.
Ajari anak-anak untuk selalu mencuci tangan sebelum
menyentuh makanan
c.
Minum obat cacing dosis sekali minum setiap 6 bulan sekali,
khususnya di masa libur sekolah dimana anak-anak cenderung lebih sering bermain
di luar rumah
d.
Jagalah selalu jari kuku untuk selalu bersih & terawat.
e.
Hindari kebiasaan menggigit kuku/menggaruk bagian anus
(terutama untuk infeksi cacing kremi).
f.
Biasakan untuk selalu mandi di pagi hari (terlebih apabila
mengalami infeksi cacing kremi).
g.
Biasakan untuk membuka jendela kamar sepanjang hari, karena
telur cacing sensitif terhadap sinar matahari (terutama untuk cacing kremi).
h.
Jagalah selalu kebersihan makanan yang dikonsumsi
i.
Biasakan untuk selalu mengkonsumsi daging yang telah dimasak
dengan sempurna
3. KKP
(KEKURANGAN KALORI PROTEIN)
Kekurangan kalori protein adalah
defisiensi gizi terjadi pada anak yang kurang mendapat masukan makanan yang
cukup bergizi, atau asupan kalori dan protein kurang dalam waktu yang cukup
lama (Ngastiyah, 1997).
Kurang kalori protein (KKP)
adalah suatu penyakit gangguan gizi yang dikarenakan adanya defisiensi kalori
dan protein dengan tekanan yang bervariasi pada defisiensi protein maupun
energi (Sediaoetama, 1999).
a. Klasifikasi KKP
Berdasarkan
berat dan tidaknya, KKP dibagi menjadi:
1.
KKP
ringan/sedang disebut juga gizi kurang (undernutrition)
ditandai oleh adanya hambatan pertumbuhan.
2.
KKP berat,
meliputi:
a) Kwashiorkor (bentuk kekurangan protein yang berat, yang amat sering terjadi
pada anak kecil umur 1 dan 3 tahun) adalah suatu sindroma klinik yang timbul
sebagai suatu akibat adanya kekurangan protein yang parah dan pemasukan kalori
yang kurang dari yang dibutuhkan (Behrman dan Vaughan, 1994). Kwashiorkor
adalah penyakit gangguan metabolik dan perubahan sel yang menyebabkan
perlemahan hati yang disebabkan karena kekurangan asupan kalori dan protein
dalam waktu yang lama (Ngastiyah, 1997).
b) Marasmus adalah penyakit yang timbul karena kekurangan energi (kalori)
sedangkan kebutuhan protein relatif cukup (Ngastiyah, 1997). Marasmus merupakan
gambaran KKP dengan defisiensi energi yang ekstrem (Sediaoetama, 1999).
c) Marasmik-kwashiorkor merupakan kelainan gizi yang menunjukkan gejala klinis
campuran antara marasmus dan kwashiorkor (Markum, 1996). Marasmik-kwashiorkor
merupakan malnutrisi pada pasien yang telah mengalami kehilangan berat badan
lebih dari 10%, penurunan cadangan lemak dan protein serta kemunduran fungsi
fisiologi (Graham L. Hill, 2000). Marasmik-kwashiorkor merupakan satu kondisi
terjadinya defisiensi, baik kalori, maupun protein. Ciri-cirinya adalah dengan
penyusutan jaringan yang hebat, hilangnya lemak subkutan dan dehidrasi.
b. Tanda-tanda
KKP
1.
KKP Ringan
a) Pertumbuhan linear terganggu.
b) Peningkatan berat badan berkurang,
terhenti, bahkan turun.
c) Ukuran lingkar lengan atas menurun.
d) Maturasi tulang terlambat.
e) Ratio berat terhadap tinggi
f) normal atau cenderung menurun.
g) Anemia ringan atau pucat.
h) Aktifitas berkurang.
i)
Kelainan kulit (kering, kusam).
j)
Rambut kemerahan.
2.
KKP Berat
a)
Gangguan pertumbuhan.
b)
Mudah sakit.
c)
Kurang cerdas.
d)
Jika berkelanjutan menimbulkan kematian.
c. Cara
Penyembuhan
1.
Pengobatan
a. Memberikan makanan yang mengandung banyak protein bernilai biologik tinggi,
tinggi kalori, cukup cairan, vitamin dan mineral.
b. Makanan harus dihidangkan dalam bentuk yang mudah dicerna dan diserap.
c. Makanan diberikan secara bertahap, karena toleransi terhadap makanan sangat
rendah. Protein yang diperlukan 3-4 gr/kg/hari, dan kalori 160-175 kalori.
d. Antibiotik diberikan jika anak terdapat penyakit penyerta.
e. Tindak lanjut berupa pemantauan kesehatan penderita dan penyuluhan gizi
terhadap keluarga.
d. Penyebab KKP
Penyebab langsung dari KKP adalah defisiensi kalori maupun protein dengan
berbagai tekanan sehingga terjadi spektrum gejala-gejala dengan berbagai nuansa
dan melahirkan klasifikasi klinik (kwashiorkor, marasmus,
marasmus-kwashiorkor).
Penyebab tak langsung dari KKP sangat banyak sehingga penyakit ini disebut juga sebagai penyakit dengan causa
multifaktorial. Berbagai faktor pengertian KKP dan antarhubungannya sudah
banyak dianjurkan berbagai bentuk sistem holistik, yang menggambarkan
interelasi antar faktor dan menuju ke titik pusat KKP tersebut. Berikut ini
merupakan sistem holistik penyebab multifaktorial menuju ke arah terjadinya
KKP:
1.
Ekonomi negara
yang kurang
2.
Pendidikan umum
kurang
3.
Produksi bahan
pangan yang rendah
4.
Kondisi hygine yang kurang baik
5.
Jumlah anak
yang telalu banyak
6.
Pekerjaan yang
rendah
7.
Penghasilan
yang kurang pasca panen
8.
Sistem
perdagangan dan distribusi yang tidak lancar serta tidak merata.
9.
Daya beli rendah
10.
Persediaan pangan kurang
11.
Penyakit
infeksi dan Inventasi cacing
Pada lapisan terdalam, sebab
langsung dari KKP adalah konsumsi kurang dan sebab tak langsungnya hambatan
absorpsi dan hambatan utilisasi zat-zat gizi berbagai hal, misalnya karena penyakit.
KKP sebab primer (langsung) disebut KKP primer dan yang disebabkan faktor tak
langsung disebut KKP sekunder. Penyakit infeksi dan infestasi cacing dapat
memberikan hambatan absorpsi dan hambatan utilisasi zat gizi yang menjadi dasar
timbulnya KKP.
e. Cara
Menanggulangi KKP
KKP merupakan salah satu
masalah serius yang sedang dihadapi Indonesia. Kita dapat berusaha agar KKP
dapat dikuragi. Berikut adalah cara-cara pencegahannya :
1. Tingkat keluarga
a) Ibu membawa balita ke
posyandu untuk ditimbang
Pertumbuhan balita dapat diketahui apabila setiap
bulan ditimbang, hasil penimbangan dicatat di KMS, dan antara titik berat badan
KMS dari hasil penimbangan bulan lalu dan hasil penimbangan bulan ini
dihubungkan dengan sebuah garis. Rangkaian garis-garis pertumbuhan anak
tersebut membentuk grafik pertumbuhan anak. Pada balita yang sehat, berat
badannya akan selalu naik, mengikuti pita pertumbuhan sesuai dengan umurnya
(Depkes RI, 2000).
a) Balita naik berat badannya bila :
(1) Garis pertumbuhannya naik mengikuti salah
satu pita warna, atau
(2) Garis pertumbuhannya naik dan pindah ke pita warna diatasnya.
Gambar 2.1. Indikator KMS bila balita naik
berat badannya
b) Balita tidak naik berat
badannya bila :
Garis pertumbuhannya turun, atau
Garis pertumbuhannya mendatar, atau
Garis
pertumbuhannya naik, tetapi pindah ke pita warna dibawahnya.
Gambar 2.2. Indikator KMS bila balita tidak
naik berat badannya
c) Berat badan balita dibawah garis merah artinya pertumbuhan
balita mengalami gangguan pertumbuhan dan perlu perhatian khusus, sehingga
harus langsung dirujuk ke Puskesmas/ Rumah Sakit.
Gambar
2.3. Indikator KMS bila berat badan balita dibawah garis merah
d) Berat badan balita tiga bulan berturut-turut tidak nail (3T),
artinya balita mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga harus langsung dirujuk
ke Puskesmas/ Rumah Sakit.
Gambar 2.4. Indikator KMS
bila berat badan balita tidak stabil
e) Balita tumbuh baik bila:
Garis berat badan anak naik setiap bulannya.
Gambar 2.5. Indikator KMS
bila berat badan balita naik setiap bulan
f) Balita sehat, jika :
Berat badannya selalu naik mengikuti salah satu pita warna atau pindah ke pita warna
diatasnya.
Gambar 2.6. Indikator KMS bila pertumbuhan balita
sehat
b) Memberi ASI
Eksklusif pada usia sampai enam
bulan
c) Memberi makanan pendukung ASI yang mengandung berbagai
gizi (kalori, vitamin, mineral) setelah berusia 6 bulan
d) Memberitahukan petugas
kesehatan bila balita mengalami sakit
e) Menghindari pemberian makanan buatan kepada anak-anak
untuk menggantikan ASI sepanjang ibu masih mampu menghasilkan ASI
f) Melindungi anak dari
kemungkinan menderita diare dan dehidrasi dengan cara memelihara kebersihan,
menggunakan air masak untuk minum, mencuci alat pembuat susu dan makanan bayi
serta penyediaan oralit
g) Jika anak telah menderita karena
kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk
karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah
sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak.
Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini
sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi
bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun,
biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan
muncul masalah intelegensia di kemudian hari.
Tindakan
pencegahan terhadap marasmus menurut Rani et al (1998) dapat dilaksanakan
dengan baik bila penyebab diketahui. Usaha-usaha tersebut memerlukan sarana dan
prasarana kesehatan yang baik untuk pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi.
Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi yang
paling baik untuk bayi. Ditambah dengan pemberian makanan tambahan yang bergizi
pada umur 6 tahun ke atas. Pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan
kebersihan lingkungan dan kebersihan perorangan, pemberian imunisasi, dan
mengikuti program keluarga berencana untuk mencegah kehamilan terlalu kerap.
Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat merupakan
usaha pencegahan jangka panjang. Pemantauan (surveillance) yang teratur pada
anak di daerah yang endemis kurang gizi, dengan cara penimbangan berat badan
tiap bulan.
g) Mengatur jarak kehamilan
ibu agar ibu cukup waktu untuk merawat dan mengatur makanan yang bergizi untuk
buah hati mereka
2. Tingkat posyandu
a) Kader melakukan penimbangan
pada balita setiap bulan di posyandu
b) Kader memberikan penyuluhan
tentang makanan pendukung ASI (MP-ASI)
c) Kader memberikan pemulihan
bayi balita yang berada di garis merah (PMT) contoh : KMS
d) Pemberian imunisasi untuk
melindungi anak dari penyakit infeksi seperti TBC, polio dan ada pula beberapa
imunisasi dasar, antara lain :
1) BCG
2) DPT
3) Polio
4) Hepatitis B3
5) Campak
Tambahan :
1) HiB (meningitis)
2) PCV / IPD (pnemokokus)
3) MMR
4) Influenza
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Anemia,
cacingan, dan KKP merupakan penyakit yang sering diderita oleh masyarakat.
Penyebabnya sangat beragam. Anemia dapat diketahui dengan pemeriksaan fisik
maupun dengan laboratorium. Pengaruh cacingan bisa sangat mengganggu terutama
pada anak-anak. Cacingan masih menjadi masalah kesehatan yang mendasar di
negeri ini. Selain itu asupan gizi yang kurang dapat mempengaruhi proses
pertumbuhan.
1.2 Saran
Pemerintah
harus lebih aktif untuk menanggulangi dan memperhatikan masalah-masalah gizi
khususnya di daerah pedalaman. Masyarakat pun harus ikut serta terlibat dalam
penanggulangan masalah ini, supaya ingat bahwa pentingnya gizi untuk tubuh
kita.
DAFTAR PUSTAKA
Arisman,MB.2010.Gizi Dalam Daur
Kehidupan.Jakarta:Buku Kedokteran EGC
Atikah P, Erna K. 2011. Ilmu Gizi untuk Keperawatan dan Gizi
Kesehatan. Yogyakarta: Muha Medika.
Indra, wulandari yettik. 2013. Prinsip Prinsip Dasar Ahli Gizi. Jakarta
Timur: Dunia cerdas
Widyastuti,Agustin,Hardiyanto.(Peneterjemah).2008.GiziKesehatan Masyarakat.Jakarta:
Dewi, Pujiastuti N, Ibnu Fajar. 2013. Ilmu Gizi untuk praktisi kesehatan.
Yogyakarta: Graha Ilmu Ruko Jambusari No.7 A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar